Selasa, 01 Februari 2011

haruskah saya menjadi PNS???

"halo, apa kabar?", mungkin hanya kalimat itu yang mampu saya ucapkan ketika suatu hari nanti kita bertemu. tapi, siapa yang tahu embel-embel atau kalimat selanjutnya yang akan saya ucapkan ketika anda bertanya, "dimana kamu bekerja saat ini?"

dan saat saya menjawab, "saya bekerja di salah satu instansi pemerintah", kemungkinan yang akan muncul hanya dua. pertama, anda akan terkejut setengah mati, membayangkan betapa jauhnya saya membanting setir. meninggalkan sebuah idealisme yang sedari dulu saya agung-agungkan. kedua, anda mungkin akan tertawa terbahak-bahak sembari berkata, "hahahaha... kamu jadi PNS?? yang benar saja?! PNS itu miskin! kaya sih... mungkin terjadi, tapi pasti hasil korupsi. kalau bukan korupsi, berarti kamu pelihara tuyul atau ngepet!! hahahaha", anda melanjutkan tawa anda dihadapan saya yang telah mengepalkan tangan siap menonjok wajah anda.

itulah bayangan yang seketika muncul, berkelebat dalam pikiran saya sewaktu ayah saya bertanya, "sekarang kamu semester berapa?"

saya menjawab, "baru semester empat".

awalnya saya berpikir, ayah bertanya seperti itu karena ia hendak menjodohkan saya dengan anak dari famili jauhnya yang kabarnya pernah menolong ayah hingga menjadi seorang pegawai negeri saat ini.
lama saya menunggu tanggapan ayah dan ia berkata, "padahal bos paman mu sudah mau pensiun!?"

satu hal yang saya tangkap dari kata-kata ayah, ia akan membawa saya ke dunia kerjanya. menjadi seorang PNS dengan kenaikan gaji yang tiap tahunnya hanya naik 10% dari gaji pokok. hal itu mengingatkan saya pada jumlah pajak yang harus saya bayar di sebuah restoran fast food ternama di Indonesia.

saya menyadari dengan sangat-sangat sadar bahwa saya bisa tumbuh, hidup layak, menikmati pendidikan hingga jenjang S1, bisa makan ini-itu, beli apapun yang saya mau, semuanya dari hasil kerja keras ayah saya. saya sadar akan hal itu. walau terkadang saya berpikir, hidup kita sebenarnya pas-pasan jika hanya mengandalkan gaji ayah dan ibu yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil. ayah, yang hanya berpenghasilan lebih kurang 3 juta per bulan dan ibu yang jumlah penghasilannya hingga detik ini tak pernah saya ketahui.

sementara saya, yang hanya seorang diri, lahir sebagai anak tunggal, menjadi sebuah keuntungan sendiri bagi kedua orangtua saya. tapi disisi lain, jumlah anak yang hanya satu biji, tidak akan menambah jumlah tunjangan yang berarti tidak akan menambah jumlah gaji ayah saya sebagai 'penanggung'.

melihat realita yang ada, saya mulai berkecil hati. hingga terkadang saya mengomel tak jelas dalam hati, "jika sudah tahu gaji pegawai kecil, kenaikan gaji yang hanya 10 persen tiap tahun tergantung kemurahan hati dari bapak Presiden, mengapa saya harus jadi pegawai negeri sipil??? bukankah dengan membuka lapangan kerja baru, saya akan sedikit lebih sejahtera dari seorang PNS? sekalipun awal hidup seolah tak menentu. lalu, haruskah saya menjadi PNS???"

teruss terang, saya... anak dengan tinggi badan yang tak sampai 150 cm (cukup pendek bagi yang memiliki tinggi di atas rata-rata), punya cita-cita dan mimpi yang jauh lebih tinggi dari tinggi badan yang saya punya.
saya ingin sekali menjadi pemilik dari sebuah factory outlet, saya ingin punya resort di pinggir pantai dan pegunungan, saya ingin menjadi seorang pimpinan sebuah partai, saya ingin menjadi seorang penulis ternama, saya ingin menjadi penyanyi, saya ingin jadi praktisi hukum paling terkenal di dunia, saya ingin jadi seorang organisatoris, dan masih banyak lagi keinginan saya yang lain. tapi dari sekian banyak daftar keinginan ini, bisa saya katakan bahwa keinginan menjadi seorang PNS ada di urutan paling buntut.
yang artinya adalah, jika semua poin dalam daftar keinginan saya tak satupun yang terwujud, maka pilihan terakhir adalah... menjadi seorang pegawai negeri sipil. bekerja banting tulang dengan hasil yang tak sepadan.


jika masa bakti atau masa kerja telah mencapai 10, 20, atau 30 tahun, PNS hanya akan diberi sebuah tanda penghormatan sebesar uang 500-an logam yang disepuh emas lengkap dengan sebuah piagam yang tertera nama serta tanda tangan dari bapak Presiden. jika anda beruntung, maka anda akan memiliki kesempatan untuk berfoto bersama bapak-bapak pejabat sesuai pilihan anda. dan foto itu, dengan bangga akan anda pajang di ruang tamu (agar dilihat orang), di ruang kerja (untuk dilihat sepanjang masa), atau dikamar tidur (untuk menjadi doa agar esok anda bisa menjadi orang yang berfoto di samping anda).


terlalu muluk pikiran saya selama ini. akhirnya, saya terdampar pada pilihan terakhir. bukan karena tak sanggup atau gagal dalam meraih tiap poin yang masuk dalam daftar keinginan, tetapi faktor modal yang tak kunjung datang. berharap Tuhan membuang segepok uang dari langit, itu hanya mimpi belaka.
hal terakhir yang akan saya lakukan sebagai calon sarjana hukum hanyalah... lulus S1, mungkin lanjut S2 atau tidak sama sekali, setelah itu mengikuti ujian CPNS (kembali memakai baju tai cicak warna hitam putih), mengikuti pra-jabatan selama beberapa minggu, masuk kerja, bersedia ditempatkan dimana saja, jika disukai oleh atasan.. anda akan bertahan lama, tapi jika dibenci atasan... bersiaplah untuk dimutasi. tiap bulan akan menerima gaji sesuai dengan golongan. kemungkinan menerima honor jika ada yang melakukan rapat dan nama anda tertera dalam SK. tiap bulan ke 13 anda akan menerima gaji yang terkenal dengan sebutan gaji ke 13. mendekati hari raya idul fitri (bagi muslim), anda akan mendapat THR dari atasan (bisa juga tidak bila atasan anda bersifat agak serakah).


kemungkinan naik jabatan dengan cepat juga bisa anda dapatkan jika anda pandai 'mencari muka' di depan atasan anda. jalan-jalan ke luar negeri apalagi, tapi... itupun dengan syarat-syarat tertentu. dan jalan-jalan ke berbagai kabupaten serta kota se Indonesia menggunakan uang negara, dengan hanya melampirkan boarding pass, tiket, dan SPJ (fiktif, kadang-kadang).


tapi itulah hidup saya, itulah yang setiap hari harus saya lihat di depan mata. kadang, ada hal yang tak sesuai dengan ideologi saya. sayangnya, tak ada cara jitu untuk menghindari semuanya. saya hanyalah seorang anak yang kelak harus bisa menghidupi diri sendiri dan orang tua. bertahan hidup demi generasi penerus.


satu hal yang selalu saya ingat dari ayah saya, "walaupun hidup sebagai PNS itu pas-pasan, tapi jangan sampai kita korupsi!!"


dan, entah sampai kapan saya memendam pertanyaan ini pada ayah saya. "haruskah saya menjadi PNS???"




terima kasih, ayah.

1 komentar:

Powered By Blogger